
Serigala Berbintang
EMPAT
Mereka semua berjalan kembali ke rumah kawanan. Sebelum mereka sampai, Sage bersandar di pohon dan meletakkan tangan di rusuk kanannya.
Napasnya menjadi sedikit lebih sulit dan sekarang Sage sampai kesulitan untuk terus bernapas.
"Bintang?" Juliet berjalan kembali ke arahnya. Yang lain juga berbalik.
"Aku baik-baik saja, Juliet."
"Kau berbohong lagi," kata Juliet menuduh. Sage tersenyum dan mulai batuk. Sesuatu keluar dari mulutnya. Dia menyekanya dan melihat darah. Sial.
Leo dan Aries melihatnya dan langsung menghampirinya. Sebelum Sage bisa melakukan hal lain, napasnya menjadi lebih sulit.
Kakinya menyerah, tetapi sebelum dia jatuh, dua tangan kuat menangkapnya.
Leo berdiri di depan Sage. “Jangan terlalu dipikirkan.”
Sage menatapnya penuh tanya.
Leo menempelkan telinganya di dadanya sementara Sage berdiri kebingungan dengan apa yang dilakukan Leo. Sage terbatuk lagi dan tangannya dipenuhi darah lagi.
"Paru-paru kanannya tertusuk dan dipenuhi darah," kata Leo sambil berdiri tegak lagi.
Lengan Aries bergerak dan membopong Sage. Sage memandang lengan yang membopongnya dan melihat Aries. "Kita harus membawanya ke Dok," kata Aries kepada Leo.
Leo mengangguk dan berbalik ke arah dua pria lainnya.
“Jamerson, Adam, kalian berdua lari ke rumah sakit. Pastikan Dok mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk kedatangan kami.”
Mereka berdua mengangguk, berubah wujud, dan melesat.
Aries juga mulai berjalan.
"Bintang..." Suara Juliet terdengar semakin jauh. Dia tidak bisa menjawab. Napasnya menjadi lebih dangkal dan lebih dangkal. Sage menyandarkan kepalanya di bahu Aries.
"Ini semua salahku!" teriak Juliet saat Leo mengangkatnya.
Sage mendengar suara-suara ketika mereka mendekati rumah-rumah kawanan.
"Sage!" Dia mengenali suara pamannya. Dia merasakan tangan di lengannya dan tahu bahwa itu pasti tangan pamannya.
"Apa yang terjadi?"
Sage mengenali suara dokter kawanan.
“Aku melihatnya mengejar Juliet dan mengira dia sebagai ancaman. Kami bertarung dan aku pasti telah mematahkan salah satu rusuknya. Dia batuk darah dan napasnya semakin pendek,” kata Aries.
Aries membaringkannya di tempat tidur. Apakah mereka sudah di rumah sakit? Sage mendengar bunyi bip-bip dari mesin dan merasakan sesuatu yang dingin di dadanya.
“Aku ingin semua orang keluar dari ruangan. Aku harus menutup paru-parunya dan membenahi tulangnya,” kata Dok.
"Aku tidak akan meninggalkannya!" Rick keberatan.
“Rick, aku tidak punya waktu untuk berdebat. Setiap detik berlalu tanpa penanganan dariku, dia semakin dekat dengan kematian.”
“Aku tidak peduli, aku tidak akan meninggalkan…”—dia berhenti sejenak—“keponakanku.”
Dok menghela napas. "Rick, aku tahu ini sulit, tapi aku ingin kalian semua pergi."
"Aku tidak akan—" Rick memulai.
"Kau akan keluar dari ruangan ini!"
Bahkan Sage bisa merasakan perintah yang diberikan Leo kepadanya. Rick mengerang, dan setelah pintu tertutup, Sage bisa merasakan Dok melepas pakaiannya.
Dia merasakan jarum masuk ke lengannya, dan tidak lama kemudian, dia kehilangan kesadaran.
***
Sage terbangun di ruangan yang gelap. Tidak ada apa pun di sekelilingnya. Dia melangkah dan merasakan sesuatu bergerak melewati kakinya.
Dia mengarahkan pandangan ke bawah dan melihat bahwa dirinya mengenakan gaun biru gelap dengan bintik-bintik putih bersinar yang tampak seperti langit malam.
Gaun itu punya garis leher jatuh dan lengan bajunya terbuat dari kain tembus pandang putih dan ketat di lengan sampai sikunya.
Dari sana, sepotong kain panjang mencapai tanah dari bagian belakang lengannya.
Rok melingkar menjuntai di tanah dengan ekor kecil. Gaun ini adalah salah satu gaun terindah yang pernah dilihatnya.
Dia bertelanjang kaki dan rambutnya tergerai. Di mana dia?
Dia maju selangkah lagi, dan dalam sekejap, bintik-bintik putih di gaunnya menghilang, kecuali beberapa yang terang, dan memenuhi ruang gelap itu. Sage serasa berjalan di langit malam.
"Akhirnya, kami sudah menunggumu," terdengar suara seorang pria.
Sebelum bisa menjawabnya, dia bisa mendengar suara yang dikenalnya berteriak. Dia melihat ke belakang dan semuanya memudar menjadi kegelapan.
***
“Sudah seminggu! Kenapa dia belum sadar juga?” Rick berteriak kepada Dok.
"Aku tidak tahu. Aku melakukan semua yang aku bisa, Rick. Dia adalah manusia. Hanya sebegitu saja yang bisa kulakukan untuknya,” jawab Dok.
Sage merasakan seseorang menggenggam tangannya. Dia memfokuskan tenaga di tangannya dan sedikit meremasnya. Tangan itu segera bereaksi dan meremas kembali.
"Sage?"
Suara Rick.
Sage perlahan membuka matanya dan menatap pamannya yang kelelahan. Dia sedikit tersenyum kepadanya. "Hai, Paman."
Air mata mengalir dari mata Rick dan dia mencium punggung tangan Sage. "Selamat datang kembali."
Sage melihat ke arah Dok. "Apa yang terjadi?" dia bertanya.
“Tulang rusukmu lemah karena memar. Ketika Alpha Aries melawanmu, pasti ada pukulan yang menghancurkan dua rusukmu. Salah satu potongannya menusuk paru-paru kananmu.
“Aku melakukan operasi. Aku telah membenahi dua rusukmu yang patah di sebelah kanan, menutup lubang di paru-parumu, dan membersihkannya.”
Sage meletakkan tangannya di luka yang diperban.
“Kau akan merasakan sakit selama beberapa minggu ke depan, tetapi selain itu, kau akan selamat.
“Sekarang setelah kau bangun, aku ingin melakukan beberapa tes padamu, dan jika hasilnya bagus, kau bisa pulang. Tidak perlu istirahat di tempat tidur selama kau selalu berhati-hati.”
Sage sedikit mengangguk.
Setelah Dok selesai melakukan tes dan dia puas dengan hasilnya, Rick memberi Sage beberapa potong pakaian bersih untuk dikenakannya. Ada beberapa pakaian dalam yang bersih, celana olahraga, dan T-shirt.
Dia menyanggul rambutnya sekenanya dan berjalan keluar kamar. Kakinya sedikit goyah, tapi dia senang bisa berjalan lagi.
Rick berjalan bersamanya menuju rumah-rumah kawanan. Dia membimbing Sage melewati rumah ke teras belakang.
Dia melihat ke kolam tempat Elijah, Romeo, Juliet, Edward, Rachel, Aries, Leo, dan dua pria yang sekarang dia kenal sebagai Jamerson dan Adam duduk di tepian.
"Kedua alpha ini benar-benar tidak punya kewajiban, ya?"
Rick tertawa. “Punya, hanya saja mereka pun sedang libur. Juliet benar-benar terpukul sejak kejadian di hutan hari itu. Dia datang menjengukmu setiap hari di rumah sakit.”
Sage memandangi gadis kecil yang duduk lebih jauh dari kelompok lainnya.
“Edward tidak bisa fokus dan Aries masih merasa sangat bersalah. Jadi, mereka memutuskan untuk tidak melakukan tugas-tugas saat ini.”
Sage mengangguk. Tak satu pun dari mereka memperhatikannya dan Rick mendekat.
Mereka masih manusia serigala, kan?
Dia mendengar Juliet menangis. Rick melepaskan lengannya saat Sage berjalan ke depan. Leo adalah orang pertama yang memperhatikannya. Sage melihatnya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya untuk tidak memberi tahu siapa pun bahwa dia ada di sini.
Dia tersenyum dan mengangguk kecil. Dia berjalan di belakang Juliet. “Bagaimana kabarmu, Beta?”
Juliet berbalik secepat kilat.
Semua orang juga berbalik, tetapi Sage hanya melihat gadis kecil itu, yang terlihat seperti sedang melihat hantu.
Sage perlahan berlutut dan menatap matanya. “Aku baik-baik saja, kecil.”
Juliet mulai terisak lagi dan melingkarkan lengannya di leher Sage. Sage mengusap punggungnya dan menenangkannya. "Tidak apa-apa, Juliet."
"Ku-kukira, kau akan m-m-mati," kata Juliet di sela isak tangisnya.
Sage tertawa. “Aku tidak bisa disingkirkan semudah itu.”
Juliet menarik diri dan Sage mengeringkan air matanya dengan ibu jarinya.
"Sage?"
Dia melihat ke arah para serigala dan melihat Elijah dan Romeo yang meneteskan air mata. Rick membantunya berdiri. Sage berjalan ke arah mereka dan Elijah dengan cepat melingkarkan lengannya di lehernya.
Sage tertawa. Saat dia menarik diri, Romeo menepuk bahunya, dan dia mencium pipinya. Romeo juga memeluknya.
“Jangan pernah lakukan itu lagi!” katanya sambil menarik diri dan meraih bahu Sage.
Sage tersenyum. "Maafkan aku."
"Bagaimana perasaanmu?"
Sage melihat ke arah Aries. “Sebaik yang bisa kau lihat.”
Aries mengangguk kecil.
"Jadi, kau masih hidup."
Sage berbalik dan menatap kedua kakaknya. "Kenapa? Pernah khawatir aku tidak akan selamat?”
Iliza mendengus. “Haruskah kami merasa begitu?”
"Jika dia mati, apakah kalian bahkan akan sedih?" tanya Adam.
Sage mendengus. "Tidak bakal," jawab Sage untuk mereka.
“Tentu saja kami akan sedih! Kau masih adik kami!" kata Jessica.
"Yah, aku merasa terhormat," kata Sage mengejek.
Kedua kakaknya memutar mata dan berjalan pergi.
"Kau benar-benar punya kakak-kakak perempuan yang baik."
Sage menatap Leo. "Begitu, ya."
Leo mendengus.
Juliet menarik celana olahraga Sage untuk menarik perhatiannya. "Aku membuat sesuatu untukmu!"
Sage sedikit tersenyum saat Juliet menyerahkan gambar yang mirip dengan tatonya, tapi digambarkan di langit malam.
Sage dan Juliet melihatnya. Sage mengikuti garis tatonya.
“Dari mana kau mendapatkan gambar tato itu?”
Sage menatap Aries dan Leo yang tampak terkejut.
"Aku tiba-tiba saja ingin memiliki tato dan dibuatkan oleh seniman tato kawanan beberapa waktu lalu."
Leo dan Aries sama-sama memandang ke arah Rick yang menelan ludah.
“Apakah ada yang tidak kuketahui tentang gambar tato ini?” Sage bertanya
"Apa nama lengkapmu?" tanya Leo.
Sage menelan ludah dan menatap Rick. Wajah Rick menampakkan penyesalan. "Aku...aku tidak tahu kepanjangan namaku," katanya sambil melihat kembali ke para alpha.
Aries menatap Rick. "Siapa nama lengkapnya, Rick?" Sage menatapnya juga. Rick tampak seperti memohon. Sepertinya dia memohon agar mereka tidak memaksanya menceritakannya.
“Alpha, aku…”
“Siapa nama lengkapnya?” Aries bertanya lagi dengan perintah alpha-nya. Perintah itu tidak berhasil karena Rick juga berdarah alpha.
Setetes air mata jatuh dari mata Rick. "Sagitarius. Nama panjangnya adalah Sagitarius.”
Continue to the next chapter of Serigala Berbintang