Diklaim oleh Reaper - Book cover

Diklaim oleh Reaper

Simone Elise

Ciuman Pertama ️🌶️🌶️

REAPER

Aku tidak perlu dia mengulangi lagi.

Apa yang dikatakannya membakar telingaku, tetapi tetap saja aku tidak percaya.

Kau akan menciumku atau terus menatapku saja?

Dia kelihatannya pintar, tetapi saat ini tidak sedang berakting.

Aku terlalu tua, terlalu berbahaya bagi bidadari ini.

"Aku bilang," dia mengambil langkah lebih dekat ke arahku, meletakkan tangannya di dadaku, "apa kau akan menciumku?"

Aku mengusap buku-buku jariku di sisi wajahnya. Kulitnya selembut yang kubayangkan.

Aku ingin menciumnya.

Aku ingin melakukan lebih banyak lagi kepadanya.

Namun, umurku 20 tahun. Aku terlalu tua untuknya dan dia terlalu muda untukku.

"Tidak, Sayang, aku tidak akan menciummu."

Meskipun aku ingin, tapi tidak bisa melakukannya.

Dia masih di bawah umur.

Dia adalah buah terlarang.

Sementara aku terkejut secara mental, aku tidak menyadarinya berjinjit lalu memberikan ciuman lembut di bibirku.

Ciumannya nyaris tidak menyentuh bibirku, tetapi itu sudah cukup. Cukup untuk merasakannya.

"Apa-apaan itu?" aku mendesis.

Dia baru saja menjerumuskanku dengan obat yang membuatku kecanduan…

Yang akan membuatku sakau selama dua tahun panjang.

Dia menarik kepalanya ke belakang, menatap mataku. "Aku bukannya bilang tidak akan menciummu."

"Aku terlalu tua untukmu, Abby."

Terlalu tua, terlalu berbahaya, dan terlalu ternoda untuknya.

"Akan tetapi, aku masih ingin menciummu lagi." Abby tersenyum, senyum yang sangat lebar. "Kau tahu, Kade, kau benar-benar perlu santai sejenak."

“Kau sedang main api, Abby,” gerutuku sambil berjalan melewatinya.

Dasar remaja bodoh.

Mereka tidak tahu apa yang baik untuk mereka. Abby tidak menyadari apa yang telah dia lakukan.

"Kim tidak bisa mengejekku lagi." Dia mengikutiku, menyeringai seperti dirinya memang benar-benar masih remaja.

Aku sudah terbiasa dengan wanita—dingin, lembek, dan bekas.

Bukan omong kosong yang ceria, bahagia, dan dengan seringai begini.

Ini mengingatkan lagi betapa rumitnya situasiku dengannya.

"Apa yang kau bicarakan, Sayang?"

Kucari rokokku; dengan kondisi seperti ini, aku akan merokok sebungkus sebelum mengantarnya kembali ke markas.

"Yah, bukannya aku kehilangan keperawananku, tapi tetap saja, ciuman pertama itu berkesan."

Dia mengangkat bahu dan duduk di bangku piknik sebelahku.

"Itu tadi ciuman pertamamu?" Aku tidak percaya omong kosongnya.

"Ya." Dia mengambil duluan sebatang rokok dari sebungkus milikku, bahkan sebelum aku sempat mengeluarkannya.

"Itu tadi bukan ciuman," geramku.

Naluri insting terasa di sekujur tubuhku; aku tidak bisa melawannya meskipun ingin.

Matanya melebar ketakutan. "Maaf…aku tidak…maafkan aku," dia tergagap.

"Berhenti."

Aku menjentikkan rokok yang tidak menyala dan berputar, membingkai wajahnya yang sempurna dengan tanganku. Jika tempatku di neraka belum dipesan, pasti sekarang sudah.

Aku menundukkan kepalaku, jadi dia tahu.

Dia tahu apa yang akan terjadi dan tidak menarik diri; tidak lari sambil berteriak.

Dia menghirup napas dengan gemetar sebelum aku mencium bibirnya yang sempurna.

Aku tidak bisa melakukannya dengan lembut; itu bukan caraku.

Aku menciumnya dengan keras, dan kasar, dan erangan kecil yang keluar dari bibirnya memberitahuku bahwa dia menyukainya.

Tangannya melingkar di leherku dan dia terus mencengkeramku erat-erat.

Aku meletakkan tanganku di pinggulnya dan menggerakkan tanganku yang lain untuk mencengkeram bagian belakang kepalanya.

Dia membalas ciumanku dengan keras.

Tanganku gatal untuk meraih ke bawah kausnya dan merasakan payudaranya yang kencang, tetapi aku tidak melakukannya. Aku terus memegang pinggulnya.

Dia melepaskan ciumannya, menghirup udara.

“Kamu baik-baik saja, Sayang?” Aku menyingkirkan rambut yang acak-acakan di wajahnya.

“Jangan berhenti.” Dia melaju, menekan bibirnya dengan keras ke bibirku.

Tangannya yang kecil dan hangat menyentuh tanganku dan dia mencoba mengarahkannya ke bajunya. Aku membeku.

"Aku tidak bisa, Sayang." Aku menarik diri, menanamkan ciuman di lehernya.

Dia memohon kepadaku untuk menyentuhnya.

“Kumohon, Kade, tolong.”

“Aku tidak bisa, Sayang.” Aku tetap tidak bisa melakukannya.

Dia meraih tanganku, lalu bukannya menggerakkannya ke atas, dia malah menurunkannya, menyebabkan mataku terbelalak dua kali lipat dan jantungku hampir meledak karena kaget.

Dia mendekatkan dirinya ke arahku. “Ayolah, Kade. Kumohon."

Aku menggelengkan kepala dan mencium lehernya.

"Kade, kumohon," dia memohon di telingaku sambil menekan tubuhnya ke tubuhku.

Sambil menggeram, aku menariknya ke meja piknik di sisi tempat parkir mobil, mendudukkannya di bangku, dan membuka kancing celana jinsnya.

Aku akan menyesali ini nanti, pasti.

Namun, aku hanyalah manusia.

"Kamu yakin?" Aku bertanya kepadanya, tanganku berada di atas kehangatannya.

"Aku mau ini," katanya.

Aku menyelipkan jari ke dalam dirinya, lalu matanya segera tertutup dan dia mengerang.

"Rapat sekali, Sayang," gerutuku.

Aku mulai menggerakkan jariku dan dia bergoyang mengikuti iramanya.

Aku tidak bisa memasukkan dua jari ke dalamnya; pasti akan menyakitinya.

"Sayang, lihat aku." Kucengkeram kepalanya. Aku bisa merasakannya mengencang dan merapat di sekitar jariku.

Dia akan orgasme dan aku ingin melihat ekspresi di wajahnya saat dirinya klimaks.

Matanya terbelalak. Nafsu dan gairah terpancar dari matanya.

"Jangan dilawan, Sayang."

Aku mencium lehernya.

Lengannya bergetar di sekelilingku dan dia mencengkeraman jariku dengan begitu kuat.

Sangat rapat.

Dia mengerang keras dan namaku terucap dari bibirnya pada napas terakhir.

Batang kemaluanku bukannya keras lagi; benar-benar mati kaku mendengarnya mengerang namaku saat dia klimaks untuk pertama kalinya.

Dahinya berkeringat dan dia menempelkannya ke dahiku. "Terima kasih."

Kata-kata manisnya membasuh wajahku.

"Tidak perlu berterima kasih kepadaku, Sayang." Aku menciumnya dengan lembut. "Aku senang melakukannya."

Aku yakin tidak akan pernah melupakan ekspresi di wajah dan matanya saat dia orgasme.

Akulah ciuman pertamanya.

Namun, dia juga memberiku sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.

Melihat wajahnya yang memerah, matanya, aku merasa hatiku dicengkeram.

Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

***

Aku duduk menyangga motor dengan kedua kakiku sambil dia meredakan diri.

Tempat parkir di klub sepi sekali.

Dia menggigil diterpa angin malam dan aku menendang standar keluar, lalu turun dari motor.

Dia tidak ingin menatap mataku.

Alih-alih, matanya menatap motorku.

Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku belum pernah memerawani seorang gadis dengan jariku sebelumnya.

"Kenapa bagian ini agak kosong?" dia meletakkan tangannya di mesin motor, di mana ada bagian kosong pada catnya.

"Aku mencari-cari gambar malaikat maut." aku menggaruk bagian belakang leherku. "Orang yang mengerjakan semua ini tidak punya gambar yang kusuka."

Dia menganggukkan kepalanya. “Jadinya pasti keren.” Dia mendongak, menatap mataku untuk pertama kalinya sejak apa yang terjadi di taman tadi. “Akan terlihat cocok untukmu.”

"Ya." Aku menyeringai.

“Yah, sebaiknya aku masuk untuk…um…tidur.” Dia mundur selangkah, matanya masih menatapku.

“Malam, Abby.”

“Malam, Kade.” Dia tersenyum, membalikkan badannya dan berjalan menuju markas.

Aku tidak bisa berhenti menatapnya, melihat tubuhnya bergoyang dengan setiap langkahnya menjauh dariku.

Dia terlalu cantik untukku. Aku terus terbayang-bayang apa yang baru saja terjadi.

Tidak akan pernah melupakannya.

Aku tahu itu saat dia melangkah masuk ke rumah.

ABBY

Aku terbangun karena bunyi mesin menderu.

Untuk sesaat, itu tidak mengejutkanku. Aku tinggal di markas; mendengar deru mesin motor bukanlah hal yang aneh, tetapi hari ini berbeda.

Aku melemparkan selimut ke belakang, terhuyung-huyung turun dari tempat tidur.

Aku merobek gambar dari buku sketsaku dan berlari ke lorong.

Aku tersandung kakiku dan tidak sengaja terjatuh beberapa langkah sambil bergegas.

Dia tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Mendobrak pintu rumah markas, aku mengamati kerumunan para pengendara.

Ayah sedang berbicara dengan Dane, mengucapkan selamat jalan.

Kim terbangun dan masih mengenakan pakaian yang terakhir kulihat semalam.

Lalu aku melihat Kade di atas motornya, sedang menatap ponsel.

Sambil tersenyum, aku bergegas melewati beberapa orang.

Lantai beton terasa dingin di telapak kakiku dan seandainya saja aku tertidur dengan piamaku yang nyaman, bukannya malah celana pendek dan kutang merah muda yang ketat.

“Kade.” Aku berdiri dengan canggung di samping motornya.

Kepalanya langsung menoleh ke arahku, matanya sesaat terkejut. "Eh, kamu di sini."

“Yah, aku kan tinggal di sini.” Aku tersenyum ketika melihat senyumannya melebar.

“Kamu baru bangun, ya?”

Pipiku memerah saat matanya mengamati tubuhku dari atas hingga ke bawah.

“Ya, begitulah.” Aku menggigit bibir bawahku dan kemudian mengulurkan tanganku. "Aku ingin memberimu ini sebelum kamu pergi."

Dia mengambil kertas yang terlipat dariku.

“Hanya sketsa kasar. Kamu tidak perlu menggunakannya, tapi ya. Yah, aku…um, tidak bisa tidur setelah kamu dan lalu, um…yah, aku mulai…” aku menunduk. Mengapa aku tidak bisa merangkai kata-kata?

Dia membuka secarik kertasnya. "Kamu yang menggambar ini?"

“Hanya sketsa kasar. Kamu bilang tidak bisa menemukan yang kamu suka, jadi aku menggambarnya.”

Dia tersenyum lembut kepadaku. “Terima kasih, Abby.”

Namaku terucap dari bibirnya.

Astaga, dia mencuri hatiku.

"Oke." Aku mengayunkan tumitku dan sepertinya masih tidak bisa berhenti menyeringai.

Sial, apa aku sudah gila?

Abby yang pintar tidak akan melakukan ini.

Abby yang pintar akan menyesali kejadian semalam.

Bukannya malah berdiri di samping pria yang bisa menjadi racunku sendiri.

Setelah bagaimana tubuhku bereaksi, aku benar-benar salah tingkah.

"Ayo, kita pulang, teman-teman!" Dane meraung sebelum menaiki motornya.

"Kamu tidak akan kembali ke sini untuk sementara waktu, ya?" tanyaku kepada Kade, mengambil langkah lebih dekat ke arahnya agar dia bisa mendengarku.

Mengapa itu membuatku gusar?

Mengapa menjadi begitu peduli, mengetahui bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi mungkin bertahun-tahun lamanya?

Deru mesin motor bertambah banyak memenuhi tempat parkir.

“Ya, Sayang. Mungkin beberapa tahun.”

Dia tampak berpikir sejenak sebelum menghidupkan motornya, membenarkan apa yang kupikirkan.

“Sampai bertemu lagi, kalau begitu.”

Aku bertanya-tanya apakah aku akan melihatnya lagi.

Para pengendara datang dan pergi.

Komitmennya terhadap klub mungkin akan berubah selang beberapa tahun lagi.

Lazim saja jika seorang anggota pindah klub.

"Kamu mungkin sudah cukup umur pada saat aku kembali lagi ke sini." Dia menjulurkan lidah di bibir bawahnya. "Jadi, nanti bisa menyelesaikan apa yang kita mulai."

Aku tersipu. "Yah, kalau begitu, berarti kamu harus kembali lagi saat aku sudah cukup umur." Aku menggigit bibir bawahku, menatapnya dengan mata penuh nafsu.

"Pasti, Sayang."

Dane melaju, lalu Kade mengedipkan mata kepadaku sebelum menyusulnya.

Aku menyaksikannya keluar dari jalan masuk mengikuti ketuanya.

Aku sungguh-sungguh jatuh hati kepada pengendara yang lebih berbahaya dan beracun daripada ayahku.

Bagaimana sekarang aku bisa mencoba bersama remaja laki-laki setelah disentuh seorang pria?

"Apa yang kamu berikan kepada Reaper?" Ayah ada di sampingku, dan aku terlalu lupa diri tergila-gila kepada Kade sampai tidak menyadari Ayah telah berjalan melintasi tempat parkir ke arahku.

"Sketsa." Aku menyilangkan lenganku, udara pagi yang dingin menerpa tubuhku.

“Untuk apa?” Ayah mendesakku untuk mendapatkan lebih banyak jawaban.

“Aku menyukainya.”

Aku mengangkat bahu dan meredakan ketertarikan terhadap pria yang jauh lebih tua dariku.

“Dia mengingatkanku kepada Ayah.” Aku menatap ayahku dan terus berbohong. “Jiwa tersesat.”

Ayah mendengus dan menaruh tangannya yang besar di kepalaku, mengacak-acak rambutku. “Semua pengendara motor itu jiwa tersesat, Sayang. Itu sebabnya kami semua sangat kacau.”

Aku tersenyum kepadanya, padahal sesungguhnya memikirkan Kade.

Apakah dia akan kembali?

Next chapter
Diberi nilai 4.4 dari 5 di App Store
82.5K Ratings
Galatea logo

Unlimited books, immersive experiences.

Galatea FacebookGalatea InstagramGalatea TikTok